Saturday, April 21, 2007

Pada suatu pagi di Palangkaraya

Walo sering ke Palangkaraya, saya belum perna menulis tentang Kota Palngkaraya ibu kota Propinsi Kalimantan tengah yang terkenal dengan julukannya kota cantik, bukan kenapa tapi memang kalo ke Palangkaraya waktu kebanyakan ya buat dirumah saja sama Rafi dan Mamanya Rafi tentunya, kalo pun jalan ya cuma mencari sesuatu paling ya kebutuhan sehari-hari atau biasanya ya keluar cari mainan atau baju-baju rafi kalo gitu ya paling cari makan atau antar mamanya rafi ke Kantor.

Palangkaraya sendiri untuk ukuran ibukota propinsi termasuk masih belum terlalu berkembang menurut saya, kotanya bagus rapi dan bersih tata kotanya juga saya pikir bagus karena jalanan juga lebar dan sangat teratur. Cuma untuk hiburan dan kebutuhan hidup sehari-hari bisa dibilang mahal semacam sayuran dan buah-buahan kerasa mahal. Katanya mahal karena sayuran dan buah-buahan sendiri masih harus didatangkan dari banjarmasin atau bahkan dari jawa. Struktur tanah yang berpasir dan sebagian lagi tanah gambut kayaknya penyebab susahnya sayuran dan buah-buahan susah hidup di daerah ini. Walo saya dibesarkan di surabaya dan sempet merantau ke jakarta dan makassar saya pikir kota palangkaraya kota paling panas yang saya rasakan#:-S. Mungkin deket dengan katulistiwa atau mungkin tanahnya yang berpasir? Saya juga tidak tahu. Soal Mall ya biar nanti istri saya saja yang cerita. :)

Untuk akses ke Palangkaraya sebenarnya agak susah pilihan pesawat belum banyak, untuk dari surabaya hanya ada satu kali flight Batavia, sedang dari jakarta ada sriwijaya dan batavia dimana masing-masing satu kali flight, soal harga tiket ya lumayan juga terutama kalo dari surabaya karena tidak ada saingan ya batavia jual mahal kayaknya, hukum suplay demand berjalan disini. Transport di dalam kota bisa menggunakan taxi (sebutan angkot di palangkaraya), Taxi sendiri (taxi beneran maksudnya) cuma ada di bandara. Untuk ke kota Cuma bayar 50 ribu

Hari rabu pagi sebelum pulang, saya dan istri sengaja cari sarapan, sebenarnya pinginnya cari gado-gado Cuma warungnya tutup jadinya jalan muter-muter ke kota akhirnya kami memutuskan beli ketupat kandangan di deket jembatan kahayan.

Iya akhirnya saya bisa foto-foto jembatan kahayan, jembatan kahayan ini semacam land mark kota palangkaraya, jembatan sepanjang 640 meter dengan lebar 9 meter ini menghubungkan Kota palangkaraya dengan Buntok ibukota kabupaten Barito Selatan, Kenapa juga dinamakan Kahayan? Karena jembatan ini berdiri diatas sungai kahayan. Kembatan ini nampak megah tapi sayang yang lewat juga belum banyak karena akses darat sendiri yang menghubungkan dengan buntok masih rusak. Kalo malam sendiri sih katanya banyak muda-mudi berpasangan yang mampir kesini.

Oh iya kalo sempet ke palangkaraya dan melihat jembatan kahayan sempetin juga makan ketupat kandangan di bawah jembatan lumayan enak koq harganya juga murah cuma 5 ribu perak, kalo pagi hari warungnya penuh berjubel deh yang beli, selain ketupat kandangan ada juga nasi kuning. Ketupat kandangan sebenarnya makanan khas banjar, karena di Palangkaraya ini selain suku asli dayak banyak juga pendatang dari banjar yang tinggal menetap si Palangkaraya ini. Ketupat kandangan sendiri sebenarnya cuma ketupat disiram kuah santan, yang bikin sedep karena ada aroma ikan haruan bakar pada kuah santannya, ikan haruan sendiri biasanya menjadi pilihan lauknya untuk menyantap makanan ini. :D Hehe.. sory foto ketupat kandangannya lupa buru-buru makan sih kemarin.

Udah dulu besok sambung lagi cerita makanannya. Ada tempat waralaba baru buka di Palangkaraya. Mamanya rafi dah ngajak kesana terus jauh sebelum saya datang ke Palangkaraya jadi penasaran. ;)


5 comments:

Tukang Ketik said...

Jadi pengen ke palangkaraya nih.
Naik pesawatnya berapa pulang-pergi ?
trus dari bandara ke hotel berapa lama naik taksinya?
hotelnya ada yang murah ga? biasanya berapa permalam?

Mashuri said...

saya terakhir ke kota Palangkaraya tahun 1994, saat transportasi melalui darat dari Banjarmasin-Palangkaraya masih syulittt...

kayaknya sekarang sudah mudah, ya...

wah betul, ketupat Kandangan emang enak *promo* neh...

saya juga suka,

Laksono said...

@ Tukang Ketik, Wah dari Mana Dulu mas? kalo pesawat kaykany ya standar lah tergantung musimnya juga. kalo musim asap di Palanggka bisa0bisa gak ada pesawat :)
banyak bgt pertanyaannya bingung jawabnya :)
@ Mashuri, Selera kita sama mas ternyata :)

anecnyanech said...

hmmm..ini toch suaminya teman temannya gw yg di PLN....bagus blognya mas....nyinggung PLK lagi..hehehe..gw sbg pendatang juga bingung nyari makan disini..itu2 mulu malah makannya....ditunggu cerita di PLK lagi mas...

pandawa said...

Sy bbrp kali ke PKY, sy blm pernah nyoba masakan khas sana. Temen sering ngajak makan soto banjar, ikan nila bakar yg nota bene bukan asli sana. Sampai akhirnya ada satu masakan yg rasanya hanya ada disana yaitu sayur rotan muda. Rasanya ... ah entahlah buat lidah jawa seperti saya. Tapi kalo ikan seluangnya oke.
Oh ya mas Laks, saya ijin print foto jembatan ya, anak saya kelas VI ada tugas kliping kumpulun gambar kali. Salam.